Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

AL-QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP MANUSIA

طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ (١)هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (٢)

1. Thaa Siin[1090] (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Quran, dan (ayat-ayat) kitab yang menjelaskan,
2. untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman,
(QS. An-Naml, 1-2)


Al Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah ke bumi, sebagai penyempurna dari kityab-kitab terdahulu, yang keasliannya selalu terjaga sepanjang zaman. Sebagai sebuah kitab, Al-Qur’an berkedudukan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, terutama seorang muslim. Benarkah kita sudah mengamalkan sisi dari apa yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut? Ataukah kita hanya sekedar membacanya saja?

Sungguh sayang sekali jikalau kita hanya menjadikan Al-Qur’an ini hanya sebagai sebuah bacaan semata, apalagi oleh umat muslim pada umumnya. Padahal, hampir dari seluruh orang-orang yang menjadi seorang muallaf, menerima hidayah setelah mereka mengetahui isi dan kandungan dari ayat-ayat Al-Qur’an. Merngapa hal tersebut bisa terjadi?

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ (٤)

4. dan Sesungguhnya Al Quran itu dalam Induk Al kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar Tinggi (nilainya) dan Amat banyak mengandung hikmah. (QS Az-Zukhruf, 4)

Ya, karena Al-Qur’an merupakan kitab yang banyak mengandung hikmah, dalam segala hal. Mulai dari ilmu pengetahuan hingga kehidupan social, hamper semuanya tercantum dalam kumpulan ayat-ayat al-Qur’an.

Allah mernurunkan Al-Qur’an, karena Dia-lah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dikarenakan sifat penyayangnya pada umat manusia, agar manusia bisa mengerti, apa yang seharusnya mereka lakukan, dan apa yang seharusnya mereka jauhi, sehingga manusia bisa selamat dalam meniti jalannya di dunia maupun di akhirat dengan selamat.

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ (٥٥)

55. dan ikutilah Sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (QS. Az-Zumar, 55)


Oleh karena itu saudaraku umat muslim sekalian, selama kita masih diberi kesempatan oleh Allah, mari kita gunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Mari kita cintai Al-Qur’an kita, dan mari kita mempelajari isi dan kandungannya. Niscaya, Allah akan senantiasa memberikan petunjuk bagi kita. Semoga apa yang saya sampaikan disini dapat memberi manfaat, amiin…

Readmore »»

MARI KITA BERANTAS RASA MALAS DALAM HIDUP KITA

Malas, adalah rasa enggan untuk melakukan sesuatu, atau menggapai sesuatu hal yang kita inginkan. Sebagai seorang manusia, sudah lumrah tentunya bila kita dihinggapi adalah rasa malas. Banyak hal yan bisa memunculkan rasa malas di hati kita ini. Sebagai contoh, adalah kita terlalu sering berkutat dengan imajinasi kita yang terlalu tinggi, sehingga kita hanya bisa berharap dan berharap, namun kita sama sekali tidak bisa mengupayakan untuk mencapai sesuatu yang sangat kita impikan tersebut. Bisa juga kita pernah mengalami kegagalan yang terjadi berulang kali, sehingga menjadikan kita malas untuk kembali menggapai cita-cita atau tujuan yang sedang kita kejar.


Saudaraku muslimin sekalian, kita semua harus tahu bahwa rasa malas tidak akan bisa membawa kita keluar dari permasalahan yang sedang menghimpit kita. Kita juga harus tahu bahwa rasa malas tidak akan membawa kita menuju cita-cita yang sudah lama kita impikan. Yang ada hanyalah rasa malas tersebut menghambat perkembangan diri kita, dan menahan kemmpuan kita untuk terus maju dan berkembang. Kita patut bersyukur, karena meskipun takdir dalam hidup kita ini sudah ditentukan oleh Allah, Allah masih bermurah hati memberikan kita kemauan untuk berkehendak, kemauan untuk menggapai asa dan harapan. Sesuai dengan firman Allah dalam surah Ar-Ra’du :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (١١)

11. bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Usaha, itulah yang diperlukan untuk merubah nasib kita. Bukanlah sekedar berpangku tangan dan pasrah pada takdir kita. Tiada salahnya kita bermimpi, dan berharap untuk merengkuh kesuksesan ataupun keberhasilan. Namun kita harus ingat, bahwa kesuksesan itu tidak akan pernah kita genggam selama kita tidak berusaha untuk mengejar dan mendatanginya.

Berkaitan dengan topic yang tengah saya uraikan disini, terdapat sebuah kisah mengenai peristiwa yang dialami oleh Imam Abu Hanifah. Suatu ketika, beliau menyusuri sebuah rumah, dan terdengar seseorang mengeluh akan nasibnya yang belum makan sejak pagi hari. Mendengra keluhan itu, maka Imam Abu Hanifah merasa iba. Beliau lalu melemparkan sebuah bungkusan ke jndela rumah itu berisi sejumlah uang, disertai secarik kertas.Orang itu menjadi terkejut dan merasa senang sekali ketika membuka bungkusan itu. Kemudian, ia membuka lipatan kertas tersebut dan membaca isinya, “Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti it, kamu tidak perlu mengeluh dengan nasibmu. Ingatlah pada kemurahan Allah dan jangan berhentyi memohon kepada –Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka bertputus asa hai kawan, tetapi berusahalah terus.”.

Keesokan harinya, ketika Imam Abu Hanifah melewati tempat yang sama, beliau kembali mendengar rintihan dari orang tersebut, yang intinya memohon agar ia diberi sebungkus uang seperti hari kemarin. Imam Abu Hanifah kembali melemparkan sebungkus uang disertai secarik kertas. Orang itu dengan gembira mengambil bungkusan tersebut dan membaca secarik kertas yang dilemparkan oleh Imam Abu Hanifah tadi. Tulisan tersebut berbunyi,”Hai kawan, bukan begitu cara memohon, bukan demikian cara berikhtiar. Perbuatan demikian ‘malas’ namnya. Putus asa pada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh Allah tidak senang melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Hendaklah engkau senang bekerja dan berusaha karena kesenangn itu tidak datang sendiri tanpa dicari dan diusahakan. Allah tidak akan mengabulkan permohonan orang yang malas bekerja.Allah tidak akan mengabulkan permohonan orang yang berputus asa. Sebab itu carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu.Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah kamu akan mendapat rezeki selama kamu tidak berputus asa. Nah,… carilah segera pekerjaan. Saya akan berdoa, semoga engkau sukses.”.

Setelah membaca isi kertas itu, ia termenung, insyaf, dan sadar akan kemalasannya. Selama ini dia tidak mau berusaha. Sejak harim itu, sikapnya pun berubah mengikuti peraturan-peraturan hidup dan tidak melupakan nasihat dari Imam Abu Hanifah tersebut.

Dari sepenggal kisah diatas, bisa kita simpulkan bahwa sesungguhnya kemalasan tidak akan membawa perubahan, melainkan diperlukan ikhtiar dan usaha keras, agar kita bisa merubah nasib. Demikian, semoga apa yang bisa saya sampaikan ini bisa memberi manfaat, amiin…

Readmore »»

Segala Sesuatu Adalah Didasari Oleh Niat

Saudaraku umat muslim sekalian, niat adalah landasan utama dalam segala perbuatan kita. Rasulullah pernah bersabda : “Bahwa sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat, dan bahwa sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya menuju kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrahnya kerana dunia yang dia mahu mencari habuannya, atau kerana seorang perempuan yang dia mahu kahwininya, maka hijrahnya ke arah perkara yang ditujuinya itu” .


Setiap amal perbuatan kita, sebenarnya bisa menjadi pahala, jika kita mengawalinya dengan niat kepada Allah. Mengapa harus diniatkan karena Allah? Karena jika kita berniat untuk sesuatu yag lain, misalnya untuk kepentingan duniawi, maka yang kita dapat hanyalah hal yang bersifat duniawi saja. Dan yang amat disayangkan adalah kita sama sekali tidak mendapat pahala dari Allah SWT. Jika kita berniat karena Allah, maka setidak-tidaknya kita bisa berharap untuk mendapat pahala dari Allah SWT.

Sebagai contoh kecil, ketika banyak sekali diantara saudara-saudara kita umat muslim yang mengalami kegagalan dalam memenuhi kriteria lulus Ujian Nasional, banyak sekali diantara mereka yang mengalami kekecewaan berat. Mereka begitu sulit sekali untuk menerima kenyataan. Bahkan sampai ada yang bunuh diri. Tentunya jika kita menilik masalah ini dengan lebih terperinci, hal tersebut dikarenakan mereka telah meniatkan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi sejak awal-awal menempuh pendidikan di bangku SMA. Mereka sama sekali lupa bahwa yang menentukan segala sesuatunya adalah Allah SWT. Sehingga ketika pada akhirnya mereka melenceng dari niatan awal mereka, mereka mengalami kekecewaan dan depresi yang mendalam. Hal yang terjadi akan berbeda jika saudara-saudara muslim kita tersebut, meniatkan belajarnya atas nama Allah. Mereka akan berfokus dan memandang bahwa sesungguhnya mereka belajar itu hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Sehingga, jika mereka pada akhirnya mengalami kenyataan terburuk yakni gagal untuk lulus, mereka masih bisa melanjutkan hidup, karena tujuan utama mereka bukanlah untuk sekadar lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi populer, melainkan untuk mengharap ridho dan pahala dari Allah semata.

Demikianlah, saya berharap apa yang saya tuliskan disini dapat dijadikan renungan untuk kita semua, terutama saya pribadi. Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba yang mengharapkan ridho Allah semata. Amiin…

Readmore »»

PENYEBAB DOA TIDAK TERKABUL

Saudaraku umat muslimin sekalian, pastilah kita semua menyadari, bahwa doa adalah bagian yang cukup penting dalam ritual keseharian kita. Doa adalah cerminan harapan seorang hamba kepada Tuhannya, dan juga merupakan salah satu senjata yang dimiliki oleh seorang mu’min. Namun, apakah semua doa yang kita panjatkan kepada Allah itu akan langsung terkabul?

Belum tentu, karena Allah SWT juga pasti akan menyeleksi doa-doa mana saja yang bermutu dan memang layak untuk dikabulkan olehNya. Nah, pembagian doa itu sendiri menurut saya itu ada 3:
1. Doa yang pasti dikabulkan oleh Allah SWT. Nah, yang masuk dalam kategori yang special ini adalah doa orang yang standar keimananya tinggi. Yaitu doa para nabi dan rasulNya, doa para waliyullah, doa para hamba yang selalu dekat dengan Tuhannya, dan juga termasuk doa para orang teraniaya.
2. Doa yang masih menunggu untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Nah, doa yang ini biasanya doa milik orang-orang yang standar keimanan dan keislamannya ‘cukup memenuhi SKM’. Maksudnya, hanya melakukan ibadah wajib saja. Sehingga tidak ada nilai ‘plus-plus’ atau nilai tambahan dalam melaksanakan ibadahnya.
3. Doa yang pasti tidak dikabulkan oleh Allah SWT. Termasuk dalam hal ini doa yang memohon kejelekan (kecuali doa orang yang teraniaya dan doa orang-orang yang dicantumkan di kriteria nomor 1 diatas), dan berdoa yang tidak langsung kepada Allah, misal seperti melalui perantara-perantara yang tidak dianjurkan dalam Islam.

Saudaraku umat muslimin sekalian, kita jangan menjadi kecewa kepada Allah ketika doa kita tidak langsunh dikabulkan olehNya, apalagi menjadi berburuk sangka (su’udzan) pada Allah. Karena Allah juga pastinya mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya, dan belum tentu juga doa itu jika dikabulkan merupakan pilihan terbaik bagi kita. Selain itu, bisa juga karena doa kita tidak dikabulkan oleh Allah dikarenakan hal-hal tertentu. Guru agama saya yang sekarang, Bapak Yasin pernah menyatakan penyebab tidak terkabulnya doa. Berikut ini akan saya cantumkan keseluruhan informasi tersebut kepada anda :
1. Kita banyak belum melaksanakan hal-hal yang menjadi hak Allah dan yang termasuk kewajiban atas diri kita sebagai hamba
2. Kita sering membaca Al-Qur’an, namun kita jarang mengamlakan isi dari ayat yang kit abaca
3. Kita mengaku sebagai musuh iblis, namun pada kenyataannya kita banyak berperan sebagai sahabatnya dan lebih banyak mengikuti ajaknnya daripada perintah Allah itu sendiri
4. Kita mengaku cinta kepada Rasululllah, tetapi banyak diantara kita yang malah meninggalkan haditsnya
5. Kita mengaku ingin menjadi penghuni surga, tetapi amal dan perbuatan kita tidak mencerminkan amalan dari penghuni surga yang seharusnya
6. Kita mengaku takut akan siksa dalam neraka, tetapi kita banyak melakukan maksiat tanpa berhenti
7. Kita mengaku akan keberadan maut, tetapi banyak diantara kita yang tidak mempersiapkan bekal yang cukup untuk bertemu dengannya
8. Banyak diantara kita yang suka menyibukkan diri mengurusi aib dan cacat pada orang lain, namun kita melupakan cacat dan aib kita sendiri
9. Kita memakan rizki yang diturunkan oleh Allah, namun banyak diantara kita yang tidak mensyukuri nikmat tersebut
10. Kita sering mengubur atau menghadiri pemakaman saudara kita yan telah meninggal mendahului kita, tetapi tidak pernah menjadikan hal tersebut sebagai renungan dan introspeksi

Sekarang, marilah kita introspeksi kembali ke dalam diri kita. Sudahkah kita mendekatkan diri kita pada Allah? Apakah kita banyak melakukan hal-hal yang menjadikan doa kita tidak terkabul atau tidak? Jawaban dari pertanyaan diatas kembali pada diri kita masing-masing. Sekian dulu akhir dari tulisan saya. Semoga dapat memberi manfaat bagi kita selaku umat muslim, amin ya robbal alamin

Readmore »»

Krisis Iman yang Menjadi Masalahnya

Tentunya masih belum hilang dari ingatan kita, kisah dari aliran sesat Kerajaan Tuhan yang dipimpin oleh Lia Eden. Namun, ternyata hanya dalam waktu dekat mulai terungkap kembali keberadaan aliran sesat yang ditayangkan di televisi. Sebagai contoh kita lihat saja Aliran Satrio Piningit. Aliran yang dipimpin oleh Agus Imam Solichin ini ternyata memiliki pengikut yang cukup banyak jua. Bahkan kasus yang kali ini menurut saya lebih dahsyat lagi, karena si pemimpin aliran sendiri mengaku sebagai Tuhan? Yang membuat saya heran, aliran sesat model seperti ini kok bisa menjaring pengikut yang banyak ya? Bukankah sudah jelas kalau itu aliran sesat? Tentunya saudara muslimin sekalian harus tahu, aliran sesat semacam ini tidak hanya ada 1 atau 2 aliran saja, bahkan dimungkinkan sudah berdiri sekitar 15 aliran yang bisa dicurigai sebagai bentuk aliran sesat. Tampaknya sungguh mudah sekali bagi para pendiri aliran ini untuk bisa lolos dari pengawasan pemerintah. Apakah dalam hal ini pemerintah patut disalahkan? Jawabannya adalah mungkin saja. Namun sebaiknya jangan lah kita memandang masalah ini dari sudut pandang pemerintah saja, karena pemerintah bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini. Toh pemerintah melalui MUI juga sudah mengupayakan untuk mencegah pengembangan aliran sesat di Indonesia ini. Kita akan menemukan berbagai jawaban yang lebih kompleks jika kita kembali merujuk pada pribadi masing-masing individu.

Dilihat dari sisi para pemimpin aliran sesat ini, apalagi jika mereka adalah sang pendiri aliran itu sendiri yang posisinya bukan sebagai seorang ulama atau lulusan pondok pesantren, cukup memungkinkan untuk disimpulkan bahwa mereka itu memiliki pemahaman yang salah dari sesuatu yang mereka baca, atau dengar, atau bisa juga yang mereka pelajari sebagai dasar mendirikan aliran itu. Berkaitan dengan hal ini, saya pernah mendengar kisah menarik dari seorang guru Agama Islam saya (Bapak Drs. As’at Malik, sekarang Wabup Lumajang). Beliau adalah seorang yang bisa dikatakan cukup taat dan mengerti tentang berbagai seluk beluk Agama Islam. Suatu ketika, beliau pernah didatangi oleh seseorang, sebut saja si A. Si A ini meminta saran dan nasehat pada guru saya sekaligus mengajak beliau berdiskusi, mengenai suatu aliran yang mengakaji Al-Qur’an. Kebetulan dia sendiri adalah salah satu pendiri aliran tersebut. Setelah melalui beberapa dialog, si A ini mengatakan beberapa hal yang menurut guru saya cukup aneh dalam Agama Islam, seperti hal-hal yang berkaitan dengan ibadah dan prinsip ketuhanan. Sebagai seseorang yang cukup mengerti seluk beluk agama, tentu saja guru saya menjadi kaget. Beliau segera bertanya mengenai sumber-sumber yang menjadi dasar pendapat si A tadi. Si A dengan yakin menunjuk ayat al-Qur’an yang menjadi dasar pendapatnya disertai terjemahannya. Kemudian guru saya bertanya, sudahkah anda memahamai isi dan mempelajari berbagai kitab tafsir Al-Qur’an di pesantren ? si A menjawab tidak. Guru saya bertanya lagi, sudahkah anda mempelajari kitab-kitab hadits dan kitab-kitab yang menerangkan asbabun nuzulnya suatu ayat dalam Al-Qur’an? Si A kembali menjawab tidak. Kemudian guru saya bertanya atas dasar apa dia menyimpulkan tafsir ayat al-Qur’an itu? Dengan Pe-Denya dia menjawab,”Ya dari penyimpulan logika saya sendiri dong pak!”. Guru saya menjadi tertawa. Beliau lalu menasihati si A, bahwa ayat Al-Qur’an itu tidak boleh diterjemahkan atas dasar kita sendiri, tetapi juga harus ditinjau dari sisi asbabun nuzulnya, mengacu pada tafsir dari ulama yang diakui, dan berbagai sumber lainnya, sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam memahami isi Al-Qur’an. Setelah beberapa penjelasan, Alhamdulillah guru saya berhasil meluruskan jalan pikiran orang itu dan menjadikan dia mengerti maksud sebenarnya dari ayat Al-Qur’an yang dia tafsirkan sendiri tadi. Orang itu kemudian membubarkan aliran Kajian Qur’an yang telah ia dirikan dan memulai untuk belajar ilmu tafsir Al-Qur’an di pesantren yang sebenarnya.

Nah, jika dilihat dari sisi para pengikut aliran, cukup banyak sekali factor-faktor yang menyebabkan mereka menjadi pengikut aliran sesat tersebut. Misalnya karena diberi upah atau imbalan, karena salah persepsi dalam mempelajari sesuatu seperti yang telah diungkapkan diatas, atau bisa juga karena kurangnya pengetahuan. Dan yang paling berbahaya dari semua factor penyebab diatas adalh krisis iman. Mengapa? Karena keimanan itu sendiri adalah benteng kita sebagai umat muslim. Jika kekuatan benteng semakin melemah, tentu akan menjadi rapuh dan mudah roboh ketika diserang bukan? Logikanya seperti ini, dalam kehidupan sehari-hari jika kita tidak percaya kepada seseorang, walaupun dia adalah seorang yang dekat dengan kita sebelumnya, kita pasti akan memilih untuk meninggalkannya dan mencari teman lain, meski belum tentu teman yang kita temukan nantinya adalah teman yang baik. Begitu pula jika kita sudah tidak percaya terhadap agama kita sendiri sebagai pedoman hidup, kita pasti akan berpikir untuk meninggalkannya dan mencari agama lain. Memang tidak seratus persen kesimpulan saya diatas benar, tetapi logikanya ya seperti itu. Kita sering dirundung oleh berbagai masalah dalam kehidupan kita. Baik secara sadar ataupun tidak, masalah tersebut bisa jadi mengurangi kepercayaan kita kepada Tuhan. Oleh karenanya kita jangan selalu berfikir negatif pada Tuhan kita. Berfikirlah positif, karena Tuhan itu menyesuaikan dengan prasangka hambanya.

Terus, bagaimana dong cara kita gara kita menjadi benar-benar yakin atas agama kita dan tidak berpikir untuk mencari agama atau aliran lain? Caranya cukup simple, kita cukup menanmkan hal-hal di bawah ini pada pikiran kita :
1. Yakinlah bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar dan diridhoi oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur’an sudah disebutkan di surat Al-Baqarah ayat 132 dan Ali Imran ayat 169. Jadi, kita tidak perlu susah-susah mencari agama lain. Sudah cukup Islam sebagai Agama yang tidak akan membuat kita dirugikan di Akhirat nanti, amin.
2. Tuhan kita itu hanyalah satu. Allah SWT. Dialah yang Esa dan yang Maha Kuasa. Tiada yang pantas disekutukan dengannya. Bisa kita simak di Al-Qur’an surat Al-Ikhlas ayat 1 dan An-Nahl ayat 22. Oleh karena itu, segala macam bentuk Aliran yang ‘menawarkan’ Tuhan selaian Allah kepada kita patut dimasukkan ke dalam blacklist.
3. Nabi Muhammad SAW adalah Rasul terakhir yang diutus Allah bagi seluruh umat manusia. Sudah dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya di surat Al-Ahzab ayat 40. Jadi, jikalau ada orang yang mengaku-ngaku mendapat wahyu dari Allah, dan bahkan berani menyatakan diri sebagai seorang Rasul, bisa dipastikan dia atau mereka adalah PEMBOHONG BESAR.
4. Ingat, hanya orang kafir saja yang mempersekutukan Allah dengan yang lain. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-An’am ayat 1, Al-Ahqaf ayat 46. Kita sebagai umat muslim dilarang melakukan tindakan yang berbau syirik, termasuk mengakui adanya Tuhan selain Allah. Apabila kita membenarkan akan kedudukan seseorang dalam suatu aliran itu sebagai seorang TUHAN, sama saja kita telah berbuat SYIRIK. Dan hukumannya, tentu saja kita akan dimasukkan ke dalam Neraka tanpa adanya kesempatan untuk keluar dari sana.

Mudah-mudahan, apa yang saya sampaikan ini bisa menjadikan kita lebih waspada dan berhati-hati dalam memilih suatu aliran atau ajaran yang mengatsnamakan Islam. Semoga Allah selalu memberi petunjuk pada kita semua, Amin Ya Robbal Alamiin.

Readmore »»

Aku Bangga Menjadi Orang Islam!

AKU BANGGA MENJADI ORANG ISLAM!! Sudahkah kata-kata ditas terpatri pada batin kita? Sebagai seorang muslimin, janganlah kita merasa malu atau menutupi jati diri keislaman kita. Kita seharusnya bangga, karena terpilih menjadi pengikut Rasulullah Muhammad SAW, manusia nomor satu di dunia ini. Kita seharusnya bangga karena Allah telah menjadikan Islam sebagai agama yang diakui di sisiNya. Betapa beruntungnya kita berada dalam lingkupan cahaya petunjuk dan hidayahnya. Sayangnya, sebagian besar dari kita merasa gengsi akan keislaman dirinya sendiri.

Kita justru dalam kehidupan sehari-hari banyak berpenampilan tidak seperti seorang muslim yang seharusnya. Kita lebih bangga mengenakan kemeja-kemeja mahal dibandingkan berpakaian busana muslim. Para kaum wanita kita lebih suka untuk mengumbar aurat mereka, dibandingkan menutupny sesuai dengan ketentuan Allah. Apakah kita sepatutnya bangga akan hal diatas? Jawabannya adalah Tidak! Saudara muslimin sekalian, tidak ada yang patut dibanggakan dari tingkah laku diatas. Malah kita seharusnya malu. Malu kepada Allah, karena kita lebih memilih jalan yang telah Dia tetapkan sebagai larangan, dibanding memilih jalan yang telah diridhoiNYa untuk kita. Malu kepada Rasulullah, karena kita telah banyak menegecewakan belaiau yang telah susah payah menyampaikan risalah Tuhan demi menyelamatkan kita, kaum yang ternyata kini telah banyak melupakan jasa-jasanya. Malu kepada kita sendiri, karena sebagai manusia yang telah diberi akal oleh Allah SWT, namun masih belum bisa menentukan mana yang benar dan mana yang tepat untuk kita pilih. Saudaraku muslimin sekalian, tidak perlu lagi merasa gengsi tasa keislamn kita. Tidak perlu takut kan kecaman, cacian, atau mungkin hinaan yang ditujukan oleh para kaum kafir. Tumbuhkan keberanian untuk menyatakan bahwa diri kita ini adalah seorang Muslim sejati. Tunjukkanlah betapa terangya cahaya ilahiah yang berada dalam sanubari kita kepada dunia. Mari bersma-sama kita nyatakan bahwa KITA BANGGA ATAS KEISLAMAN KITA! Allahu Akbar!

Readmore »»

Terima Kasih Ya Allah, Atas Kedamaian Yang Engkau Berikan di Hati Saya

Saudaraku muslimin sekalian, pernahkah anda merasa pikiran bahwa pikiran anda selalu terganggu, batin terasa sesak, dan anda merasa bingung hendak mencari solusinya? Tidak perlu khawatir, Karena kita masih punya Allah, Tuhan yang selalu bisa kita andalkan. Allah selalu menyediakan tempat bagi kita untuk bersandar. Berikut ini ada kisah pengalaman pribadi saya yang mungkin berkaitan dengan problem yang dialami saudara muslimin sekalian.


Ada suatu masa dimana saya benar-benar telah jauh dengan Tuhan saya. Dikarenakan kesibukan yang terus mendera saya, membuat saya semakin lupa dengan Allah. Sholat yang saya lakukan pun waktu itu hanya untuk sekedar menggugurkan kewajiban saya. Suatu ketika, saya benar-benar merasa jenuh atas aktivitas saya. Saya merasakan kegalauan yang amat luar biasa pada hati saya. Karena hati saya waktu itu benar-benar kacau, semua aktivitas yangs aya lakukan pun menajdi berantakan. Padahal, sebenarnya saya tidak memiliki masalah serius yang menyebabkan hati ini menjadi tidak tenang. Seolah ada sesuatu yang penting tetapi terlewatkan oleh saya selama ini. Di suatu malam, saya tenggelam dalam perenungan saya. Saya bertanya pada diri saya sendiri. Apa yang saya lakukan selama ini sudah benar? Sebenarnya apa yang terjadi dengan diri saya? Sepertinya saya melupakan sesuatau yang amat penting, tetapi apa? Pertanyaan tersebut terus bermunculan di hati saya. Kemudian terlintas sesuatu di pikiran saya. Sudahkah saya mengingat Allah? Untuk apa sholat saya selama ini kalau hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja? Saat itu saya menjadi sadar. Saya benar-benar LUPA dengan Zat yang selama ini memberi andil cukup besar dalam kehidupan saya. Saya benar-benar LUPA dengan Zat yang selama ini saya sediakan waktu untuk menyembahnya. Saya benar-benar LUPA terhadap Zat yang tidak pernah melupakan hambanya. Saya benar-benar LUPA terhadap Tuhan saya, Allah SWT. Hati saya lalu menuntun saya perlahan-lahan untuk mengambil air wudhu. Mengarahkan seluruh badan ini untuk sepenuh hati menghadap sang Khaliq. Entah kenapa, saat itu saya merasakan kedamaian yang luar biasa pada setiap gerakan sholat yang saya lakukan. Saya baru ingat betapa nikmatnya melakukan shalat yang khusyu setelah sekian lamanya. Setelah sholat, saya ucapkan istighfar dan hamdalah sebanyak-banyaknya. Ucapan istighfar untuk setiap detik yang terbuang sia-sia tanpa mengingat namaNya. Dan ucapan hamdalah atas segala nikmat yang telah diberikan olehNya. Setelah saya habiskan waktu lama untuk beristighfar, mengucapkan hamdalah dan menumpahkan segala "uneg-uneg" di hati saya, Alhamdulillah hati saya berangsur-angsur menjadi tenang. Tiada lagi rasa gundah dan jenuh yang mendekam di hati. Melainkan munculnya harapan baru untuk berusaha kembali memperbaiki waktu yang terbuang sia-sia, dan berusaha sepenuh hati untuk menjadi hambanya yang patuh dan setia. Terima kasih ya Allah, atas segala karunia beserta kedamaian yang aku rasakan sampai saat ini.
Nah, saudaraku muslimin sekalian. Mungkin segala masalah yang menjadi beban kita selama ini, awalnya timbul karena kita sedikit-sedikit telah lupa atas segala karunia yang telah dilimpahkan Allah di atas kita. Mari kita mulai sejak detik ini juga untuk beristighfar atas kesalahan kita, mengingat kembali namaNya, dan segala karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Niscaya Allah akan memberi kedamaian dalam hati kita dan memberikan jalan yang terbeaik untuk menyelesaikan problema kehidupan yang sedang kita alami.
Semoga sedikit torehan pena diatas dapat memberi manfaat dalam kehidupan kita, Amin ya Robbal Alamiin...

Readmore »»

Mengundang Pertolongan Allah

Alhamdulillah, saudaraku muslimin sekalian. Memang benar kiranya kalau kita selalu memerlukan pertolongan Allah. Karena tiada daya dan upaya selain dari Allah SWT. Namun, yang menjadi pertanyaan disini ialah, bagaimana cara kita untuk mendatangkan pertolongan Allah? Caranya gampang! Allah itu Maha Kuasa. Pastinya tidak ada yang tidak mungkin bagi dia. Cara yang paling kitu adalah dengan selalu mengingat Dia dan mentaati perintahnya dalam segala aktivitas kita. Coba kita pikir, dalam logika manusia, apabila seorang pembantu selalu mentaati papa yang dikatakan oleh sang majikan, tentu sang majikan akan merasa senang dan akan membalas perlakuan baik dari si pembantu bukan? Tapi hal diatas hanyalah sebatas logika manusia. Tuhan kita, Allah SWT bebas dari semua prasangka hambanya. Allah yang Maha Adil pasti akanj memberi kita lebih banyak lagi. Jangan lupa, usahakan untuk selalu bersyukur atas pemberian dari Allah SWT. Allah memerintahkan kita untu selalu bersyukur kepada-Nya, karena pastilah ada suatu hikmah yang amat berarti dibalik semua yang diberikan Allah kepada kita.

Pada umumnya ada 3 hal yang membuat kita lupa kepada Allah. Pertama, kita sering memusatkan perhatian pada apa yang kita inginkan bukan, apa yang kita miliki. Janganlah mengukur nikmat Allah berdasarkan penilaian kita sendiri. Penilaian yang benar adalah berdasarkan apa yang kita peroleh. Apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik di hadapan Allah dan berlum tentu juga yang terbaik bagi diri kita. Yang kedua, adalah selalu melihat kepada orang lain yang diberikan banyak nikmat oleh Allah SWT. Janganlah saudara muslimin sekalian membiasakan hal tersebut. Sering-seringlah melihat orang yang keadaannya berada di bawah kita. Rasulullah mengajarkan, apabila kita melihat orang yang dilebihkan Allah dalam hal rupa dan harta benda, maka hendaklah kita melihat yang lebih rendah daripadanya. Yang ketiga, menganggap apa yang dimiliki adalah hasil usaha sendiri. Perilaku ini dapat menimbulkan sifat kikir dan lupa kepada Allah. Padahal, rezeki tersebut adalah Allah jua yang memberikan kepada kita.

Saudaraku, muslimin sekalian yang dirahmati Allah, marilah kita belajar untuk selalu mengingat Allah dalam segala kondisi yang kita alami. Jangan hanya kita mengingatnya di kala kita sedih, namun kita kembali melupakannya di kala kita senang. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah akan selalu mengulurkan pertolongannya selama kita tetap setia untuk berharap kepadanya. Semoga dengan cara ini, kita semakin dimudahkan oleh Allah dalam menggapai pertolonganNya, Amin ya Robbal Alamiin....

referensi : Buku "Agar Selalu Ditolong Allah"

Readmore »»

Buat Nambah Uang Jajan